Sabtu, 04 Agustus 2012

PENCEMARAN LAUT


Pencemaran Laut
            Bahan pencemar yang masuk ke wilayah pesisir dan laut secara elemental bisa berasal dari berbagai sumber. Keadaan fisik bahan pencemar dari suatu sumber bisa berbeda dengan dari sumber lain, dengan komposisi yang berbeda-beda pula. Dengan demikian dampaknya terhadap lingkungan juga bervariasi. Untuk itu, dalam memahami pencemaran yang terjadi di lingkungan pesisir dan laut, beberapa hal berikut perlu dibahas, meliputi bahan pencemar apa saja yang masuk ke lingkungan, bagaimana sifat polutan dan keadaan lingkungan pesisir dan laut tersebut, dan apa pengaruh atau dampak dari masuknya polutan tersebut ke lingkungan (Mukhtator , 2002).
            Pencemaran laut diartikan sebagai adanya kotoran atau hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke daerah laut. Sumber dari pencemaran laut ini antara lain adalah tumpahan minyak, sisa damparan amunisi perang, buangan proses di kapal, buangan industri ke laut, proses pengeboran minyak di laut, buangan sampah dari transportasi darat melalui sungai, emisi transportasi laut dan buangan pestisida dari perairan. Namun sumber utama pencemaran laut adalah berasal dari tumpahan minyak baik dari proses di kapal, pengeboran lepas pantai maupun akibat kecelakaan kapal. Polusi dari tumpahan minyak di laut merupakan sumber pencemaran laut yang selalu menjdi fokus perhatian dari masyarakat luas, karena akibatnya akan sangat cepat dirasakan oleh masyarakat sekitar pantai dan sangat signifikan merusak makhluk hidup di sekitar pantai tersebut (Hartanto , 2008).
            Pencemaran laut adalah hasil buangan aktivitas makhluk hidup yang masuk ke laut. Ada berbagai sumber bahan pencemar yang dapat merusak laut dan dapat membunuh kehidupan yang di laut. Seperti banyaknya ikan-ikan mati karena laut tempat mereka hidup tidak sesuai kebutuhannya. Pencemaran laut yang terjadi di muara sungai porong bersumber pada aktivitas kapal yang hampir setiap hari dan terdapat aliran sunga yang menuju laut.
Pembuangan lumpur ke laut tentu akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem air terlebih di Sungai Porong dan Sungai Aloo,membahayakan kesehatan masyarakat sekitar dan industri-industrikelautan seperti budidaya tambak udang, ikan, dan produksi garam yang ada, namun sampai seberapa besar risiko tersebut diperkirakan perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut sebagai dasar pertimbangan manajemen resikonya, melalui pemantauan kualitas air badan air secara rutin dan analisis hasil pemantauan tersebut (Darmono, 2000).
           
1    Sumber Bahan Pencemar
            Menurut Mukhtator (2002), bahan pencemar yang masuk ke lingkungan laut berasal dari berbagai sumber :
a.   Limbah Rumah Tangga. Limbah rumah tangga masuk ke perairan laut secara langsung dari outfall di pinggir pantai, dari sungai yang bermuara di laut dan dari aliran sungai. Penanganan limbah domestik lebih sulit untuk dikendalikan karena sumbernya yang menyebar.
b.   Limbah Lumpur. Limbah lumpur tersusun oleh padatan yang terpisah dari limbah rumah tangga, sehingga menimbulkan akibat hampir sama dengan limbah rumah tangga, namun seringkali mengandung logam berat dengan konsentrasi lebih tinggi. Limbah lumpur merupakan salah satu limbah yang mendominasi buangan ke laut.
c.   Limbah Industri. Limbah industri berasal dari bermacam-macam pabrik, termasuk industri makanan dan minuman, penyulingan minyak, perhiasan logam, pabrik baja/logam, pabrik kertas serta pabrik kimia organik maupun anorganik lainnya. Beberapa diantaranya mengandung unsur yang sangat beracun, biasanya berupa bahan yang asam, basa, logam berat, dan bahan organik yang beracun.
d.   Limbah Pengerukan. Pengerukan, terutama untuk kegiatan navigasi dan pelabuhan, merupakan aktivitas manusia yang terbesar dalam melimpahkan bahan-bahan buangan ke dalam laut. Kebanyakan bahan kerukan (dredgespoils) diambil dari daerah pelabuhan yang biasanya sudah sangat tercemar oleh sampah-sampah pemukiman, bahan organik, dan sisa buangan industri termasuk logam berat dan minyak. Di samping itu, limbah pengerukan menghasilkan masalah pengeruhan air oleh karena padatan terlarut (suspended solid) yang dikandungnya.
e.   Limbah Eksplorasi dan Produksi Minyak. Kegiatan operasi indutri minyak lepas pantai mengakibatkan beban pencemaran yang serius pada lokasi tertentu, mulai dari pencemaran panas, kekeruhan akibat padatan terlarut, sampai dengan pencemaran panas, kekeruhan akibat padatan terlarut, sampai dengan pencemaran kimiawi dari bahan organik dan logam-logam berbahaya. Beberapa limbah yang berbahaya dihasilkan, seperti “drilling mud” dan “cutting mud” yang sangat beracun, “produce water”(air yang ikut terisap bersama minyak), “drill cutting”(buangan sisa pengeboran), “drilling fluids”(cairan kimia untuk membantu proses pengeboran), “flaring smoke”(asap pembakaran) sampai tumpahan minyak.
f.   Tumpahan minyak. Tumpahan minyak, disengaja maupun tidak merupakan sumber pencemaran yang sangat membahayakan. Tumpahan minyak ke laut dapat berasal dari kapal tanker yang mengalami tabrakan atau kandas, atau dari proses yang disengaja seperti pencucian tangki halas, transfer minyak antarkapal maupun kelalaian awak kapal. Umumnya cemaran minyak dari kapal tanker berasal dari pembuangan air tangki balas. Sebagai gambaran, untuk tanker berbobot 50.000 ton, buangan air dari tangki balasnya mencapai 1.200 barel.
g.   Limbah Radioaktif. Sisa bahan radioaktif umumnya sekarang banyak disimpan dalam tempat-tempat penyimpanan di daratan. Beberapa diantaranya ditenggelamkan ke dasar laut yang dalam. Dari kebocoran tempat-tempat penyimpanan inilah kemungkinan akan terjadi pencemaran bahan radioaktif di laut.
h.   Cemaran Panas. Kehidupan d laut umumnya sangat peka terhadap perubahan suhu air. Suhu tinggi di laut dapat menyebabkan peneluran dini, migrasi ikan yang tidak alami, penurunan oksigen terlarut, atau kematian binatang laut. Air pendingin (Cooling water) dan effluent dari beberapa industri dibuang ke lingkungan laut pada suhu yang tinggi daripada lingkungan laut itu sendiri. Begitu juga dengan penggunaan air laut untuk pendingin pembangkit nuklir yang meningkat dengan cepat. Satu unit pembangkit nuklir memerlukan sekitar 1 milyar gallon air per hari. Dan ini sangat berbahaya apabila tidak direncakan dengan baik, termasuk air pendingin yang dikembalikan ke laut pada suhu lebih tinggi 11-200C dibanding suhu air laut normal.
i.   Sedimen. Sedimen membawa bahan dari daratan yang hanyut oleh air sungai, dan sebagian besar mengendap di kawasan pesisir dan pantai. Limbah jenis ini berbahaya bagi kehidupan laut, karena kekeruhan yang ditimbulkan dapat menutupi insang atau elemen penyaring pada binatang yang makan dengan cara menyaring air (organisme filter feeder, seperti misalnya jenis kerang-kerangan).
j.   Limbah padat. Limbah padat yang dibuang ke laut berupa sampah merupakan salah satu bahan utama yang terkandung dalam buangan limbah. Di Indonesia, sampah yang dibuang ke laut sebenarnya cukup banyak dan pada saat ini sudah pada kondisi yang memperhatinkan, terutama di perairan teluk Jakarta dan beberapa perairan lainnya di Indonesia.
k.   Limbah dari Kapal. Kegiatan operasional tersebut dapat berupa pembersihan tangki-tangki baik secara rutin maupun untuk pengedokan, pembuangan kotoran yang ada di saluran got kapal, pembuangan air ballast , termasuk juga sampah dan limbah minyak dari mesin kapal. Semua kapal yang beroperasi diwajibkan memiliki penampung limbah.
l.   Limbah Pertanian. Limbah pertanian dapat menimbulkan eutrofikasi yang disebabkan karena akumulasi bahan-bahan organik seperti sisa tumbuhan yang membusuk. Secara ekologis proses kekeruhan karena sedimentasi dapat menyebabkan terganggunya penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan, sehingga kegiatan fotosintesa plankton maupun organisme laut lainnya menjadi terhenti.
m. Pestisida. Pestisida adalah jenis-jenis bahan kimia yang digunakan untuk memberantas hama, yang bervariasi jenisnya dan mempunyai sifat fisik dan kimia yang berbeda-beda. Di antara jenis pestisida, insektisida organoklorin dikenal sangat persisten, seperti DDT (dikloro difenil tukloroetana), dieldrin, endrin, klordane dan heptaklor.
n.   Cat Antifouling. Penggunaan cat anti organisme penempel (antifouling) ternyata telah menimbulkan pencemaran logam berat yang serius di laut serta sedimen di dekat dok dan tempat sandar kapal. Cat ini dirancang untuk secara terus-menerus mengeluarkan racun untuk membunuh organisme penempel di dasar kapal.
o.   Limbah Perikanan. Potensi sumber daya ikan yang berlimpah menjadikan banyak tumbuh industri pengolahan ikan., mulai dari skala kecil sampai industri dengan skala yang besar, di Indonesia.aktivitas penangkapan ikan dengan bahan peledak atau racun kimia mengakibatkan beban pencemaran laut yang semakin tinggi dan potensi berkurangnya produksi ikan di beberapa daerah.
            Secara umum, kegiatan atau aktivitas di daratan (land-based pollution) yang berpotensi mencemari lingkungan pesisir dan laut antara lain : penebangan hutan (deforestation), buangan limbah industri (disposal of industri waste), buangan limbah pertanian (disposal of agricultural wastes), buangan limbah cair domestik (sewage disposal), buangan limbah padat (solid wastes disposal), konversi lahan mangrove dan lamun (mangrove and swamp conversion), dan reklamasi di kawasan pesisir (reclamation). Sedangkan kegiatan atau aktivitas di laut (sea-based pollution) yang berpotensi mencemari lingkungan pesisir dan laut antara lain : perkapalan (shipping), dumping di laut (ocean dumping), pertambangan (mining), eksplorasi dan eksploitasi minyak (oil exploration and exploitation), budidaya laut (mariculture), dan perikanan (fishing) (Misran , 2002).
            Dari berbagai macam-macam sumber bahan pencemaran di laut, yang paling besar dampaknya adalah sumber dari tumpahan minyak. Sedangkan sumber bahan pencemar di daerah muara sungai porong adalah aliran sungai dan aktivitas kapal. Banyaknya aktivitas kapal yang mengaliri muara sungai karena sebagian warga memanfaatkannya sebagai sumber pendapatan yaitu sebagai tempat rekreasi bagi penunjung yang sekedar melihat laut lepas karena muara sungai porong langsung menuju laut Jawa. Sedangkan di sekitar muara sungai masih terdapat rumah-rumah warga yang membuang limbah domestik di aliran sungai tersebut sehingga dapat mencemari laut.
            Berdasarkan uji kualitas air Lumpur pada bulan Juni dan Juli 2007 oleh BAPEDAL Propinsi Jawa Timur pada Laboratorium lingkungan PU Bina Marga Propinsi Jawa Timur sebagai gambaran rona lingkungan awal semburan Lumpur panas tersebut menunjukkan hasil melebihi ketentuan baku mutu sesuai dengan ketentuan KepMenLH 42/96 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan minyak dan gas serta panas bumi untuk parameter fisika kandungan endapan dalam lumpur atau Total Dissolved Solid (TDS) dan Total Suspended Solid dan (TSS) sangat tinggi. Untuk parameter kimia, kandungan Biological oxygen demand (BOD) dan Chemical oxygen demand (COD) yang tinggi, dimana parameter tersebut merupakan parameter organik atau indikator umum terjadinya pencemaran air. Kandungan senyawa Phenol diketahui juga sangat tinggi (hampir 3 kali lebih besar dari nilai baku mutu) yang merupakan zat kontaminan kimia organik, berwarna merah muda. Sedangkan kandungan logam berat seperti seng (Zn), nikel (Ni) dan Timbal (Pb) yang terdeteksi namun masih memenuhi baku mutu (Darmono , 2000).

2       Parameter Fisika dan Kimia Perairan
            Bahan organik dari limbah masuk ke laut selalu tercampur oleh banyak bahan yang berbeda. Sehingga tidak tersedia tes khusus yang memungkinkan pengukuran kandungan bahan organik secara spesifik. Tiga cara pengukuran yang sangat umum digunakan untuk memperkirakan kandungan bahan organik di perairan adalah dengan memperkirakan nilai Biological Oxygen demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Organic                      Carbon (TOC) (Mukhtator , 2002).
2.1    Biological Oxygen Demand (BOD)
            Kebutuhan oksigen biologis (Biological Oxygen Demand / BOD) yaitu suatu angka yang menggambarkan kebutuhan oksigen oleh mikroorganisme (jasad renik) untuk melakukan kegiatan metabolisme bahan organik terlarut dan sebagian bahan organik tersuspensi serta bahan anorganik (senyawa nitrogen, sulfida, dan ferro) yang memasuki perairan marin. Bahan organik yang memasuki perairan laut dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yakni golongan yang mudah urai dan golongan yang sukar terurai (misal DDT,                               PCB, PAH) (Wibisono , 1999).
            Tes ini merupakan cara pengukuran yang sangat populer penggunaannya untuk memeriksa terjadinya cemaran bahan organik. Cara ini mengukur jumlah dari molekul oksigen yang digunakan oleh bakteri untuk mengoksidasi kandungan bahan organik di dalam air sampel.oleh karena itu, BOD sering juga diartikan sebagai jumlah oksigen dalam sistem perairan yang dibutuhkan oleh bakteri aerobik untuk menguraikan / merombak bahan organik dalam air melalui proses oksidasi biokomiawi secara dekomposisi aerobik. Cara ini hanya memberikan pengukuran secara tidak langsung jumlah bahan organik yang ada, tapi tidak memberikan hasil pengukuran jumlah oksigen yang digunakan selama penguraian di lingkungan secara langsung. Semakin tinggi BOD menunjukkan semakin tinggi jumlah penurunan oksigen terlarut pada suatu sistem perairan (Mukhtator , 2002).


2.2    Timbal (Pb)
            Menurut Mukhtator (2002), sebagaimana merkuri, cemaran timbal ke laut juga berasal dari buangan di wilayah pesisir dari daratan dan dari atmosfer. Limbah yang mengandung unsur timbal umumnya berasal dari limbah industri cat, baterai, bahan bakar mobil, dan pigmen. Dibanding dengan unsur logam berat Hg dan Cd, maka unsur Pb ini tidak begitu beracun. Tetapi unsur ini bersifat kronis dan kumulatif (Halstead, 1972 dalam hutagalung dan Hamidah). Selain itu, senyawa timbal dalam bentuk organik lebih beracun daripada dalam bentuk anorganik. Timbal akan mengendap di sedimen dan dapat mengalami bioakumulasi pada organisme laut. Plankton mempunyai kemampuan  meningkatkan konsentrasi timbal dari air laut di dalam selnya.
            Timbal (Pb) adalah salah satu logam berat yang merupakan bahan buangan anorganik yang berasal dari industri. Bahan buangan anorganik ini umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit di degradasi oleh mikroorganisme. Apabila bahan buangan anorganik ini masuk ke lingkungan perairan, maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air. Apabila ino-ion logam yang terjadi di dalam air berasal dari logam berat seperti Timbal (Pb) yang bersifat racun, makan akan sangat berbahaya bagi tubuh manusia dan bagi organisme yang mendiami perairan tersebut (Yuniarti , 2010).

2.3    Suhu
Suhu adalah parameter kualitas aliran air yang signifikan. Kebanyakan sifat fisik air dan proses kimia serta biologis dalam air adalah suatu fungsi dari suhu. Secara signifikan ikan dan organisme lain terpengaruh oleh rezim termal di dalam air. jika aliran suhu turun di bawah ambang batasterjadi disfungsi osmoregulator pada spesies ikan tertentuDi sisi lain, jika suhu naik di atas ambang batas sungai, beberapa spesies ikan akan hilang dari air (Erison and Scheller,1996 dalam Bogan et al, 2003).
Suhu udara akan berfluktuasi dengan nyata selama setiap periode 24 jam. Fluktuasi suhu udara (dan suhu tanah) berkaitan erat dengan proses pertukaran energi yang berlangsung di atmosfer. Pada siang hari, sebagian dari radiasi matahari akan diserap oleh gas- gas atmosfer dan partikel - partikel padat yang melayang di atmosfer. Serapan energi radiasi matahari akan menyebabkan suhu udara meningkat. Suhu udara harian maksimum tercapai beberapa saat setelah intensitas cahaya maksimum tercapai. Intensitas cahaya maksimum tercapai pada saat   berkas  cahaya  jatuh  tegak  lurus,  yakni  pada  waktu  tengah  hari (Lakitan, 2002). 
Variasi suhu di kepulauan Indonesia tergantung pada ketinggian tempat (altitude/elevasi), suhu udara akan semakin rendah seiring dengan semakin tingginya ketinggian tempat dari permukaan laut. Suhu menurun sekitar 0.6 oC setiap 100 meter kenaikan ketinggian tempat. Keberadaan lautan disekitar kepulauan Indonesia ikut berperan dalam menekan gejolak perubahan suhu udara yang mungkin timbul (Lakitan, 2002).
Menurut Hidayati (2001) karena Indonesia berada di wilayah tropis maka selisih suhu siang dan suhu malam hari lebih besar dari pada selisih suhu musiman (antara musim kemarau dan musim hujan), sedangkan di daerah sub tropis hingga kutub selisih suhu musim panas dan musim dingin lebih besar dari pada suhu harian. Keadaan suhu yang demikian tersebut membuat para ahli membagi klasifikasi suhu di Indonesia berdasarkan ketinggian tempat.

2.4    pH
            pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
Konsep pH pertama kali diperkenalkan oleh kimiawan Denmark Søren Peder Lauritz Sørensen pada tahun 1909. Tidaklah diketahui dengan pasti makna singkatan "p" pada "pH". Beberapa rujukan mengisyaratkan bahwa p berasal dari singkatan untuk powerp (pangkat), yang lainnya merujuk kata bahasa Jerman Potenz (yang juga berarti pangkat), dan ada pula yang merujuk pada kata potential. Jens Norby mempublikasikan sebuah karya ilmiah pada tahun 2000 yang berargumen bahwa p adalah sebuah tetapan yang berarti "logaritma negatif",

2.5    Tembaga (Cu)
             Logam merah muda yang luank, dapat ditimpa, dan liat yang melebur pada suhu 10380C  adalah (Cu) atau tembaga. Potensial elektroda standarnya positif (+ 0,34 V), logam ini tidak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer (Vogel,1994).
Sumber logam berat seperti cu di dalam air laut biasnya berasal dari bahan pengawet kayu dan cat anti karat pada dasar kapal (Clark, 1989).

Limbah cair dalam jumlah yang signifikan apabila efisiensi proses tidak optimal disebabkan oleh proses produksi tekstil, penggunaan air yang tergolong tinggi dalam proses basah. Selain itu, dalam limbah tersebut dapat mengandung berbagai macam bahan kimia yang digunakan selama proses produksi, misalnya logam berat, khususnya tembaga (Cu), krom (Cr), dan seng (Zn) karena logam-logam tersebut digunakan pada proses pewarnaan dan pencetakan (Smith, 1988).


2.6    Kadmiun (Cd)

Kadmium (Cd) adalah salah satu unsur logam yang dikelompokkan dalam jenis logam berat non-esensial. Logam ini jumlahnya relatif sedikit, tetapi dapat meningkat jumlahnya dalam lingkungan yang disebabkan proses pembuangan sampah industri maupun penggunaan minyak sebagai bahan bakar (Pacyna, 1987).

Kandungan kadmium dalam tanah dapat meningkat karena ulah manusia yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan maupun proses pemupukan yang berlebihan dan suatu proses alamiah sepert peristiwa bencana alam (gunung meletus) dan oleh ulah manusia yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan maupun proses pemupukan yang berlebihan (William dan David, 1977).

Limbah logam berat yang bersifat beracun dapat terakumulasi dalam tubuh ikan, udang, kerang dan hasil laut lainnya. Kerang darah (Anadara granosa) memiliki kemampuan sebagai akumulator berbagai jenis logam berat (Cd), sehingga dapat menyebabkan kematian bagi organisme lain dan berdampak negatif bagi manusia yang mengkonsumsinya
 (Rudiyanti, 2009).

Pengaruh pola arus pasang surut dapat menyebabkan pengenceran limbah logam berat sehingga menyebabkan air laut memiliki kadar konsentrasi yang rendah di bandingkan dengan kadar logam berat dalam sedimen. Rendahnya kadar logam berat dalam air laut, bukan berarti bahan cemaran yang mengandung logam berat tersebut tidak berdampak negatif terhadap perairan, tetapi lebih disebabkan oleh kemampuan perairan tersebut untuk mengencerkan bahan cemaran yang cukup tinggi (Rochyatun, 2006).


2.7    Total Organic Carbon (TOC)

TOC dapat menggambarkan tingkat pencemaran terutama apabila nilai TOC antara bagian hulu dan hilir dapat dibandingkan, TOC menggambarkan jumlah karbon organik dalam air buangan. TOC terdiri atas bahan organik terlarut dan partikulat. Asam amino dan karbohidrat merupakan bahan organik yang tercakup dalam TOC. Pengukuran TOC dapat dikorelasikan dengan COD dan jarang sekali dengan BOD ( Kurniaputri, dkk, 2010).

Apabila nilai TOC antara bagian hulu dan bagian hilir dari tempat pembuangan suatu limbah dapat dibandingkan, maka TOC dapat menggambarkan tingkat pencemaran. Karbon organik total atau Total Organic Carbon (TOC) terdiri atas bahan organic terlarut atau DOC (Dissolved Organic Carbon) dan partikulat atau POC (particulate Organic Carbon) dengan perbandingan 10 : 1. Pengukuran TOC tidak memerlukan penyaringan, sedangkan DOC dan POC dapat diukur secara terpisah dengan menyaring air sampel menggunakan filter berdiameter 0,7 μm. asam amino dan karbohidrat merupakan  bahan organik yang terkandung dalam TOC (USU, 2011).


2.8    Total Suspended Solid (TSS)

Materi padat seperti pasir, lumpur, tanah maupun logam berat yang tersuspensi di daerah perairan adalah TSS (Total Suspended Solid). Analisis spasial TSS di perairan diharapkan dapat berguna untuk kuantikasi keterkaitan antara ekologi daratan dan lautan. Dinamika TSS mencerminan dinamika perubahan yang terjadi di daratan dan perairan karena TSS merupakan salah satu parameter biosik perairan. TSS dapat dianggap sebagai indikator awal dalam mengevaluasi kondisi lingkungan pesisir wilayah setempat berkaitan dengan keberlanjutan kegiatan yang sudah dan akan dikembangkan (Parwati, 2008).

Perairan yang relative keruh, seperti di Perairan di sekitar kaki Jembatan Suramadu mempengaruhi sebaran distribusi sedimen tersuspensi meskipun dinamika arus dan gelombang kecil. Total Suspended Solid (TSS) merupakan zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikelanorganik (Ainy, dkk, 2011).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar